Industri Kecil Terus Tumbuh, Serbuan Kue Kekinian Artis Tak Bisa Dibendung

Meski keberadaan toko kue kekinian para artis merangsek pasar oleh-oleh, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Malang belum bersikap serius. Adanya pertumbuhan di sektor industri kecil menengah (IKM) dijadikan indikasi bahwa usaha mikro, kecil, dan menngah (UMKM) dapat bertahan dan hidup di tengah gempuran brand-brand bermodal besar.

Dinas Perindustrian (Disperin) Kota Malang mencatat jumlah IKM di Kota Malang hingga  semester pertama 2017 mencapai 3.163 usaha. Angka itu bertambah dari total 2.980 pada 2016 lalu. Atau mengalami pertumbuhan sekitar 6,1 persen. Terbanyak, industri kecil tersebut bergerak di produk makanan dan minuman (mamin) serta kerajinan tangan (craft). “Terkait dengan serbuan usaha artis-artis, misalnya Malang Strudel dan yang lain itu nggak bisa dibendung. Globalisasi, era teknologi informasi, itu sebuah kelaziman dan kekinian,” ujar Kepala Disperin Kota Malang Subkhan.

“Justru bagaimana caranya agar (produk lokal) punya daya saing, di situlah tugas pemerintah,” tambahnya. Misalnya mengadakan pelatihan-pelatihan agar industri kecil memenuhi standar operasional produk hingga pemenuhan sertifikat halal dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pada rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2018 mendatang, lanjutnya, disperin telah menganggarkan bantuan untuk pemerolehan sertifikat halal. Meski Subhkan tidak merinci jumlah dana yang bakal dikucurkan.

Selain penguatan melalui pelatihan, pihaknya juga terus berupaya menjaring IKM yang ada yang belum terdaftar. “Jadi yang nonformal (belum terdaftar) itu kami formalkan,” tegas mantan kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Malang itu.

Pada dasarnya, lanjut Subkhan, tidak ada tumpang tindih kebijakan meski UMKM ditangani oleh tiga organisasi perangkat daerah (OPD). “Kalau sekarang itu orang lebih sering melihat sasaran (tugas)nya sama, memang iya. Tapi sedikit berbeda,” tuturnya. Sebab tugas dan fungsi (tusi) diseprin menurutnya lebih pada penguatan produksi. Mulai dari kualitas produk hingga pengemasan. “Nah, dinas perdagangan ini yang bertugas follow up memasarkan produk mereka,” tegasnya.

Selain belum seluruh IKM terdaftar, Subhkan menyebut kepedulian pelaku usaha terhadap standar kualitas produk masih belum tinggi. Dia mencontohkan industri kue dan mamin, rata-rata pelaku belum membekali diri dengan prosedur yang  benar, penggunaan bahan berkualitas, dan lain-lain. “Padahal pasar kan tidak hanya ingin yang enak, tapi kemasan juga bagus dan kualitas produk itu bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (*)  MALANGTIMES.com

Write a comment