Sejarah industri keramik di Kota Malang dimulai pada tahun 1953 saat pembentukan Lembaga Penyelenggara Perusahaan-Perusahaan Industri Departemen Perindustrian (LEPPIN). Kemudian muncul perusahaan keramik percontohan di daerah-daerah KY 1 Jakarta, KY 2 Loka Surabaya, KY 3 Purwokerto, KY 4 Mayong Jepara, KY 6 Tulungagung. Tahun 1957, LEPPIN mendirikan Pabrik Keramik Dinoyo yang berada di Kota Malang dan diresmikan wakil Presiden Moh. Hatta dengan nama KY 5. Pablik Keramik Dinoyo merupakan pilot project pengolahan keramik dengan menafaatkan teknologi baru yang lebih maju pada saat itu, yaitu dengan sistem cetak tuang (slip casting) & putar tekan (jiggering). Produk yang dihasilkan antara lain: piring, cangkir, moci, basi, sehingga dikenal dengan pabrik piring. Tahun 1962 KY membentuk unit-unit produksi Dinoyo 1, 2, 3 & Betek 1, 2, 3. Bahan baku di suplai dari KY, unit-unit menyiapkan barang setengah jadi (biskuit). Tahun 1968 unit-unit memisahkan diri dari induk/KY untuk mengembangkan usahanya sendiri tetapi masih menggantungkan pembinaan dan suplai bahan baku dari induk. Pada saat itu berkembang juga keramik hias berbentuk boneka (keramik noveltis).[1]

Seiring dengan berjalannya waktu, pabrik keramik yang berlokasi di Dinoyo mengalami stagnasi dan akhirnya ditutup. Penyebab tutupnya pabrik tersebut masih menjadi misteri. Penutupan industri keramik dinoyo berdampak pada masyarakat sekitar yang bekerja sebagai pengrajin. Banyak diantara mereka yang merintis industri keramik skala rumah tangga (home industries) yang tersebar di Kelurahan Dinoyo dan Kelurahan Pananggunan. Home industries keramik tersebut kini berkembang dan menjadi sentra industri keramik di Kota Malang dan dikenal oleh masyarakat luas.

Perkembangan industri keramik di Kelurahan Dinoyo tidak terlepas dari keuletan pengrajin yang terus berinovasi terhadap produk-produk keramik yang dihasilkan. Para pengrajin yang berkacamata dari perkembangan keramik Cina, kemudian mengembangkan keramik semi porselen. Ciri khas dari produk keramik dinoyo terletak pada warna dan desain natural yang mencirikan negara tropis. Bentuk dan fungsinya pun bervariasi seperti wadah aromaterapi, vas bunga, guci hias, sovenir dan lain-lain.[2]  . Produk-produk keramik Dinoyo banyak dipasarkan di Kota-Kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Denpasar, hingga Medan. Disamping itu, pengrajin juga sering mengikuti acara pemeran produk UMKM yang diselenggarakan oleh pemerintah baik skala regional, provinsi, nasional maupun internasional. Salah satu prestasi yang ditorehkan oleh pengrajin keramik dinoyo (H Samsul : ketua paguyuban pengusaha kermaik dinoyo) dalam mengenalkan produk keramik khas Dinoyo agar dikenal oleh masyarakat dunia adalah berpartisipasi dalam pemeran produk keramik tingkat internasional diberbagai negara di dunia seperti Malaysia, Thailang, Singapura, Jepan, Eropa, dan Amerka.

Other Solutions

Rotan

Balearjosari, Blimbing

Kue Basah

Klojen, Sukoharjo, Rampal Celaket, Oro Oro Dowo, Sukoharjo, Kesatrian, Penanggungan, Kauman, Gadingkasri, Kasin, Klojen

Plat Nomor

Bunulrejo, Purwantoro, Blimbing

industri keramik dinoyo hidup dari kesanggupan kreativitas masyarakat setempat